Home DARAT Kereta Api Generasi Millennial Jangan Mau Mati Sia-sia di Perlintasan

Generasi Millennial Jangan Mau Mati Sia-sia di Perlintasan

214
0
SHARE

Ketidakpatuhan dalam berkendara menjadi salah satu penyumbang angka kecelakaan yang menyebabkan banyaknya nyawa melayang sia-sia. Untuk itu Dinas Perhubungan Kabupaten Sukoharjo menyelenggarakan acara Temu Wicara Pengelola Angkutan Umum pada tanggal 30 Oktober 2017. Kegiatan ini bertempat di pendopo kantor kecamatan Baki dan dihadiri oleh tiga wilayah yakni kecamatan Gatak, kecamatan Baki dan kecamatan Kartasura.

Narasumber yang dihadirkan dalam temu wicara ini adalah Ida Hidayati selaku Deputy Executive Vice President Daop 6 Yogyakarta, Iptu Sunyono SH yang merupakan perwakilan dari Satlantas Polres Sukoharjo dan Totok Ery Sukamto selaku Kepala Perwakilan Jasa Raharja Sukoharjo

Narasumber pertama yakni Iptu Sunyono memaparkan bahwa angka kecelakaan di wilayah Sukoharjo cukup tinggi yakni 441 kejadian dengan korban yang meninggal dunia 82 korban. Faktor utama yang menyebabkan kecelakaan tersebut adalah kelalaian pengguna jalan. Salah satu pelanggaran yang sering dilakukan adalah para pengguna jalan tidak berhenti ketika sinyal di perlintasan atau pintu perlintasan sudah mulai ditutup.

Senada dengan penjabaran Iptu Sunyono, Ery Sukamto juga mengatakan bahwa tingkat kecelakaan khususnya di wilayah Jawa Tengah sangat tinggi. Sepanjang tahun 2017 ini, PT. Jasa Raharja memberikan santunan kepada korban kecelakaan yang menggunakan alat angkutan umum senilai 28 Miliar.

Dalam kesempatan kali ini, Ida Hidayati membahas tentang peningkatan keselamatan pada perlintasan sebidang. Ida Hidayati memaparkan bahwa perlintasan sebidang berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api. Dari data yang diperoleh jumlah kecelakaan pintu perlintasan pada tahun 2016 mencapai 274 kejadian.

Faktor terbesar yang menyebabkan kecelakaan tersebut adalah kelalaian manusia seperti pengendara yang menyerobot, antrian kendaraan atau macet serta disiplin yang masih rendah. Selain itu Ida juga menyampaikan bahwa jalan setapak yang berubah menjadi jalan besar juga memiliki potensi bahaya yang besar. Di akhir paparannya, Ida mengatakan untuk meningkatkan kedisiplinan dan mendahulukan kereta api yang melintas sesuai dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here